Film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) Tayang Awal 2026 di Bioskop,
Menghadirkan Kisah Anak dan Kerinduan pada Ibu Lewat Kehadiran
Kecerdasan Buatan
Admin – Jawapers.com
Jawapers.com, Jakarta, 19 Januari 2026 — Film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) hadir sebagai
kisah yang akan menghangatkan penonton Indonesia lewat sebuah kontras ketika
kecerdasan buatan (AI) berupaya menggantikan peran seorang Ibu untuk mengasihi
dan memberikan empati kepada seorang anak remaja yang kehilangan Ibunya yang
tengah mengalami koma berkepanjangan.
Dibintangi Ali Fikry, Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, Aisha Nurra Datau,
dan Bima Sena, Film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) akan tayang di bioskop mulai 22
Januari 2026.
Film ini diproduksi oleh BASE Entertainment, Beacon Film, Refinery
Media, dan didukung oleh Singapore Film Commission (SFC) dan Infocomm Media
Development Authority (IMDA).
Selain berperan, Dian Sastrowardoyo juga memproduseri film ini bersama Shanty
Harmayn. Disutradarai oleh sutradara asal Malaysia Ho Wi-ding, naskah film ini
ditulis oleh Gina S. Noer, Diva Apresya, dan Melarissa Sjarief.
Film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) menampilkan sebuah kisah yang personal, saat
perasaan kehilangan dan duka dari seorang remaja bernama Rama/Cimot dan
seorang suami menjadi satu-satunya yang tersisa dalam sebuah keluarga, keduanya
mencoba untuk menjalin hubungan yang dekat. Namun, kecanggungan membuat
keduanya justru semakin berjarak. Sebuah situasi yang sebelumnya selalu
direkatkan oleh kehadiran sang Ibu.
Kehilangan sosok Ibu yang mengalami koma di usia yang sangat muda, membuat
Cimot akhirnya mencoba segala cara.
Termasuk dengan menggantikan peran Ibu
lewat sebuah kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus oleh temannya. i-BU,
AI yang dipersonalisasi untuk Cimot, mampu memahami perasaannya, mengetahui
hal-hal yang ia sukai, dan menemani percakapan—seperti Ibunya saat masih sehat.
“BASE Entertainment selalu berupaya menghadirkan kebaruan dalam cerita yang
kami sajikan.
Melalui film terbaru Esok Tanpa Ibu (Mothernet), kami ingin
membicarakan duka dan relasi keluarga dengan bahasa yang relevan dengan hari
ini—dalam konteks teknologi AI yang kini sudah menjadi bagian dari keseharian
kita. Kami berharap kisah yang sangat personal ini dapat beresonansi secara
universal dengan penontonnya,” ujar produser Shanty Harmayn..









