Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BAPPISUS) Republik Indonesia bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) dan Forum Rektor Indonesia (FRI) Gelar Diskusi Kebangsaan I
JAWAPERS.COM
Jakarta, 22 Juli 2026 –
Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BAPPISUS) Republik Indonesia bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) dan Forum Rektor Indonesia (FRI) menggelar Diskusi Kebangsaan Chapter 1 di BRILiaN Club, Jakarta Selatan, Rabu (22/7). Forum ini menjadi langkah konkret memperkuat sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam mendukung berbagai program strategis nasional melalui pendekatan ilmiah, riset, dan inovasi.
Kegiatan ini membahas sinergi pemerintah dan perguruan tinggi terkait isu strategis nasional, meliputi ketahanan pangan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan sumber daya manusia, pembiayaan pendidikan tinggi, serta penguatan riset dan inovasi nasional.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 yang dibuka langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada Juni lalu. Sebanyak 20 rektor perguruan tinggi negeri dari berbagai wilayah Indonesia hadir untuk merumuskan kontribusi nyata dunia akademik terhadap pembangunan nasional.
Diskusi berlangsung intensif selama hampir lima jam dengan membahas lima isu strategis, yakni penguatan sektor kesehatan melalui pendidikan dokter spesialis, ketahanan pangan dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tata kelola perguruan tinggi, pembiayaan pendidikan tinggi yang lebih berkeadilan, serta penguatan riset dan inovasi nasional melalui program Rute Peradaban Nusantara.
Kepala BAPPISUS RI, Aris Marsudiyanto, SE., MM., menegaskan bahwa pemerintah membutuhkan perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam menyusun sekaligus mengawal implementasi kebijakan nasional yang berbasis data dan riset.
“Perguruan tinggi merupakan tempat lahirnya sumber daya manusia unggul sekaligus pusat lahirnya gagasan dan inovasi. Karena itu, ide-ide dari kampus tidak boleh berhenti di ruang diskusi, tetapi harus menjadi bagian dari kebijakan yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Aris, BAPPISUS akan berperan sebagai jembatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar berbagai rekomendasi akademik dapat ditindaklanjuti secara teknis dalam pelaksanaan program pemerintah.
Dalam kesempatan itu, Aris juga menekankan pentingnya membangun kualitas lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan daya saing global. Ia memperkenalkan konsep lima kecerdasan (Five Quotients) yang harus dimiliki setiap lulusan perguruan tinggi, yakni Intellectual Quotient (IQ), Spiritual Quotient (SQ), Emotional Quotient (EQ), Creativity Quotient (CQ), dan Adversity Quotient (AQ).
Menurutnya, kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan integritas, etika, kemampuan mengelola emosi, kreativitas dalam menciptakan solusi, serta ketangguhan menghadapi tekanan dan kompetisi global.
“Kita ingin melahirkan generasi yang pintar sekaligus bermartabat. Dunia semakin kompetitif sehingga mahasiswa harus memiliki kemampuan akademik, karakter, kreativitas, dan daya juang yang kuat agar mampu bersaing di tingkat internasional,” tegasnya.
Aris juga mendorong perubahan pola pikir generasi muda dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Ia menilai jiwa kewirausahaan perlu ditanamkan sejak dini agar lulusan perguruan tinggi mampu menciptakan nilai tambah bagi dirinya maupun masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga tengah merumuskan berbagai strategi untuk menarik talenta terbaik Indonesia yang berkarier di luar negeri agar kembali berkontribusi membangun bangsa melalui kolaborasi riset, inovasi, dan pengembangan industri nasional.






