Nasib PKL Tidak Ada Yang Indah Bila Berhadapan Dengan Satpol PP

Polri52 Views

Nasib PKL Tidak Ada Yang Indah Bila Berhadapan Dengan Satpol PP

 

 

 

Admin – Jawapers.com

Jawapers.Com, Bekasi, AktualNews— Perjuangan para Pedagang Kaki Lima (PKL) untuk sekadar bertahan hidup terasa begitu berat. Penghasilan yang tidak menentu, tak jarang harus berbagi pangan demi anak, hingga kerap kali diusir saat ada acara pemerintah — itulah keseharian yang dirasakan para pedagang kecil di kota ini.

Dalam sebuah wawancara, seorang ibu yang berprofesi sebagai pedagang menceritakan betapa sulitnya menafkahi keluarga. Ia bahkan pernah tidak pulang ke rumah berhari-hari karena tidak memiliki uang untuk ongkos pulang, sempat berjalan kaki bersama anaknya demi berhemat.

“Memang penjualan kami minim banget penghasilannya, Pak. Enggak ada uang untuk pulang. Bukan karena tidak mau pulang, tapi memang tidak ada anggarannya.”

Pendapatan per hari pun jauh dari layak. Omset terbesar yang pernah diraih hanya sekitar Rp70.000 — itu pun belum dipotong modal. Bahkan, sering kali mereka rela tidak makan demi memprioritaskan anak-anak. Meski begitu, ia bersyukur anak-anaknya tetap bisa bersekolah.

Harapan mereka sederhana: ingin dimanusiakan. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya diberi ruang dan kesempatan untuk berdagang tanpa terusir.

“Tolonglah kami jangan diusir untuk dagang. Kasih kesempatan untuk kami berdagang. Selama ini kalau ada acara pemerintah, pemda, kami disingkirkan, tidak boleh dagang. Padahal UMKM yang boleh harus bayar, kami tidak sanggup.”

Para pedagang itu pun membandingkan masa kini dengan masa jabatan mantan Wali Kota Bekasi, Pak Pepen. Saat itu, mereka merasa dihargai, dirangkul, dan diberi ruang. Pak Pepen diketahui sering keliling menggunakan sepeda, menyapa warga dan pedagang kecil secara langsung.

“Jamannya Pak Pepen, kami dirangkul. Beliau peduli sama kami. Artinya ini bukan rekayasa, kami memang salut sama beliau.”

Mereka berharap pemerintah hadir bukan untuk mengusir, melainkan mengatur dengan menghargai. Jangan memperlakukan mereka seperti binatang yang terusir ke sana kemari. Mereka juga manusia, rakyat yang ingin diakui keberadaannya.

“Kami hanya ingin dimanusiakan. Walaupun dalam taraf ekonomi kami orang bawah, kami tetap manusia. Cukup hari ini bisa makan, anak bisa sekolah, itu sudah syukur. Tabungan? Itu jauh dari pikiran kami.”

Pewawancara berjanji akan menyampaikan aspirasi tersebut kepada pihak berwenang. Para pedagang berharap, suatu hari nanti, kehadiran mereka diakui dan dilindungi — bukan dianggap gangguan yang harus disingkirkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *