Puisi cinta

Puisi cinta

Berita, Nasional47 Views

Bagaikan malam sunyi yang gelap

Seperti hati yang sedang merana

Menepis sebuah angan

Seakan tak perna sirna

Dalam diam ku terpaku

Ya Tuhan ,

ini kah arti sebuah hidup yang sebenarnya ?Gelap

 

Bukan kegelapan yang menakutkan, tapi sepi yang membungkam.

 

Bukan kesendirian yang menyakitkan, tapi bersama tapi sudah tak sejalan.

 

Jika langkah kaki sudah lagi tak searah, biarkan lepas dan bebas.

 

Karena bertahan jika tak lagi satu tujuan, hanya akan menciptakan luka tak terdera.

Tuhan, dosakah jika merinduinya?

Tak semua yang kita inginkan jadi kenyataan, tapi Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita

Biarkan rindu ini datang menjelma,

larut dalam air mata di kegelapan malam 🌃💧

menyudahi pancaran terang sang rembulan 🌙✨

 

Guratan pilu ini tak akan pernah terhapus,

sebelum matamu berkedip menatapku penuh arti 🥺👁️

Karena di setiap tetes air mata yang jatuh,

ada jiwa yang terisak pasrah,

teramat mengharap hadirmu, sang pujaan 🖤🥀

 

Selamat malam semoga rindu segera bertemu ya.. 🤍💫

 

_Mengejar Mimpi*_

 

Di awal Oktober ini, aku kembali menata asa.

Daun-daun kering berguguran, tapi harapan tidak pernah gugur bersamanya.

Aku berdiri di persimpangan waktu, antara lelah yang kemarin dan semangat yang baru datang.

 

Mengejar mimpi memang tidak pernah mudah.

Ada hari dimana langkah terasa berat, ada malam dimana doa terasa sepi.

Tapi bukankah itu artinya kita masih hidup? Masih berjuang?

 

Oktober, jadilah saksi.

Aku tidak akan berhenti, meski pelan. Aku tidak akan menyerah, meski tertatih.

Karena mimpi tidak pernah mengkhianati orang yang setia mengejarnya.

 

Jika hari ini belum berhasil, masih ada esok. Jika esok belum juga, masih ada Tuhan yang tidak pernah tidur melihat usaha kita.

Teruslah melangkah, wahai hati yang pernah patah. Asa itu masih ada, di awal Oktober ini.Semilir angin menusuk kulit tipisku

Bersama sinaran bintang malamku

Ada selaksa tak tersirat dalam genggamanku

Seperti rubuh seluruh anganku

Suara air yang menderu

Menyanyi kan lagu rindu

Mengalir menutupi bebatuan itu

Begitu syahdu

Tanpa singgah dan berpamitan dulu.*SEBENING CINTAMU*

 

lukisan langit siang 🍏

 

aku tak pandai menyebutnya,

hanya mampu menyimpannya

di dasar dada yang paling sunyi.

 

Kau lewat seperti angin di serambi senja,

tak menyapa, tapi harumnya tinggal lama,

aku menunduk, pura-pura tak melihat,

padahal hatiku riuh menyebut namamu.

 

Kau adalah sajak yang tak pernah kubaca keras-keras,

kutulis di punggung buku,

di lipatan doa,

di sela teh yang kubiarkan dingin.

 

Aku kagum dalam diam,

seperti bulan mengagumi matahari,

tak pernah berani mendekat,

cukup bahagia bisa memantulkan sedikit cahayanya.

 

Sebening cintamu itu,

tak pernah kau tahu jernihnya,

seperti akar mencintai hujan,

diam-diam, dalam, dan tak pernah meminta dilihat.

 

Kalau suatu hari kau menatapku,

jangan kaget bila mataku gugup,

itu bukan salahmu,

itu caraku menyembunyikan badai yang kutamai rindu.Relung Renung :

.

# TABIR NADIR #

 

Harus kutabuh generang

perang sedahyat apa

Melawan deru nafsu decak

amarah didadaku

Melipat geliat benci remas

sengal napasku

Untuk membunuh musuh

butuh seribu peluru

Tapi…melawan diri sendiri

sepahit sakit harakiri,

 

Belum terpikir harus kusimpan

dimana raga jasad ini

Bila jenuh bosan merantai hidup

berkutat dijurang sama

Menanti seutas tambang uluran

tangan wakil tuhan ?

Menambang impian naiki tebing

terjal keras dan tajam

Menuai badai diangin ribut laku

terpuruk sungut kutuk,

 

Bak menggali sumur tanpa dasar

tembus bumi ketanah asing

Segala gerogoti sabar memaksa

mengalah untuk menang

Siapa berani simpulkan hidup ini permainan hari putaran waktu

Tuhan tak pernah mengundi nasib

dan takdir setiap makhluknya

Kesaksian iman dan do’apun butuh

gerak dan upaya nyata !

 

Azab atau ujian tumpang tindih

terpapar samar dan cemar

Semua menakar akar dasar nalar

sadar dan keyakinan benar !

Da’wah pencerah hanya ilustrasi

siapa peduli setelah mati

Agama hidup dan seisi semesta

alam inipun masih mistery

Ou pecah ruah otakku mengurai

gurat kodrat dan garis hakekat

 

Hingga diujung akhir ada Idiom

Jalani Nikmati Syukuri

Hah…apa semata dalih berkilah

pelarian nisbi dalil Aqli ?

Aqidah bukan sekedar percaya

iman dan yakin mutlak

Karena amal kesalehanpun tak

jadi jaminan keselamatan

Bila ridlo dan magfirahNya bias

oleh cadas lepas ikhlas !… cuplikan terakhir eps (20)…

Serangan-serangan yang dilakukan Kakek Tua itu benar-benar merepotkan Roh Daya sehinga beberapa kali tendangan dan pukulan Kakek Tua mendarat di tubuh Roh Daya.

 

cersil

AJI PATUAN SIMARSOIT

… serial pendekar Mahasakti …(21)

 

 

Roh Daya yang terdesak dengan jurus-jurus ilmu silat, akhirnya mengerahkan hawa saktinya melindungi dada, perut dan punggungnya. Lalu dia memusatkan perhatiannya menggunakan ilmu silat untuk mengimbangi ilmu silat Kakek Tua.

 

Pertarungan silat yang dilakukan dua datuk persilatan itu sungguh luar biasa. Gerakan mereka sangatlah cepat, baik pukulan, tendangan dan gerakan sapuan kaki masing-masing. Setiap pukulan dan tendangan dialiri tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat enam, sehingga setiap gerakan menimbulkan suara.

 

“Buuukkk… buuukkk…..”, suara beradunya tendangan dan pukulan sering terjadi. Tampaknya pertarungan silat oleh kedua datuk itu sudah mencapai klimaksnya. Bahkan pertarungan itu sudah lama sekali sebelum matahari dibatas kepala, padahal saat bertarung matahari sudah miring mau menjelang sore.

Pertarungan terus berlanjut tapi berubah menjadi pertarungan marsiranggut (gulat) saling mengunci dan memelintir, tapi tetap menyalurkan tenaga dalamnya masing-masing dan menjaga serangan tak terduga mereka juga mengalirkan hawa sakti mereka ke seluruh tubuhnya.

 

“Berhentilah….. berhentilah…..kalian malah jadi marsiranggut” (bergulat), kata Malaikat Dari Timur yang aslinya bernama Batara Kala. Keduanya pun segera mengakhiri pertarungannya yang kelihatannya sudah lelah.

 

“Sekarang akulah lawanmu”, seru Baba Leo Tanggalan kepada Malaikat Dari Timur, sambil menyerang dengan pedang yang memancarkan sinar kemilau putih dengan gerakan horisontal. Malaikat Dari Timur berkelit ke samping kiri, tapi kaki kanan Baba Leo Tanggalan menyikut ke arah Malaikat. Dengan gerakan refleks Malaikat Dari Timur menghindar, namun dengan cepat pula tangan kanannya memukul kaki kanan Baba Leo Tanggalan itu sehingga keseimbangan Baba terganggu sehingga dia berguling-guling di udara untuk menjaga keseimbangan bila sudah kaki menjejak di tanah.

 

Baba Leo Tanggalan kemudian menarik jurus Pedang Membelah Gunung. Dia melayang di udara dengan ketinggian tiga depa dari permukaan tanah. Dia mengerahkan tenaga dalamnya ke tangan kanannya yang memegang pedang dan mengayunkannya ke arah Malaikat Dari Timur.

 

“Wuuusshh…. wuusshh….wusshh….”.

 

Suara deru angin pedang berwarna putih melebihi warna sinar matahari jelas kelihatan menyambar-nyambar ke tubuh Malaikat Dari Timur. Tanah-tanah berhamburan terkena sambaran sinar pedang, bahkan dahan dan ranting pohon-pohon berpatahan dihantam sambaran pedang Baba Leo Tanggalan.

 

“Baba Leo, kalau aku tak salah pedangmu itu adalah Pedang Darah Iblis, auranya busuk dan mengerikan” kata Malaikat Dari Timur, saat keduanya belum melanjutkan pertarungan.

 

“Benar, ini aku pake hanya untuk memenggal lehermu untuk kepersembahkan buat leluhur ku di hutan Simardikkan”.

 

“Ohhhhh…..sangat mengerikan tapi mengapa bukan kepalamu yang sudah busuk itu dipersembahkan oleh dedemit-dedemit di sana”, kata Malaikat Dari Timur sambil melepaskan ajian Tali Malaikat. Ajian ini adalah kesaktian yang diwujudkan dalam bentuk tali yang terus mengejar korban walaupun berlari hingga seri beribu-ribu depa.

 

Tali itu berhasil mengikat kaki Baba Leo Tanggalan tapi Baba Leo Tanggalan melepaskan ikatan itu dengan menebaskan pedangnya, tapi tali itu kembali menyerang tubuhnya sehingga dia berjumpalitan sambil menepis. Tali seperti hidup menyerang untuk membelit Baba Leo Tanggalan. Serangan bertubi-tubi dari tali diatasi oleh Baba Leo dengan habis-habisan menebas tali-tali yang tak kunjung habis itu.

Baba Leo Tanggalan berpikir bila terus-menerus waktunya menghadapi tali gaib itu maka dia akan bulan-bulanan pukulan lawan dan akan kehabisan tenaga. Dia melompat mundur sambil melepaskan satu pukulan tenaga dalamnya.

 

“Buuuuuuuuuaaaaarrr……”.

 

Pukulan itu bukan di arahkan ke tali tapi ke arah Malaikat Dari Timur. Dengan pukulan jarak jauh itu maka posisi Malaikat Dari Timur menghentikan serangannya karena dia juga musti jungkir balik menghindari pukulan jarak jauh yang dilontarkan Baba Leo Tanggalan.

 

“Aihhhh…….”, ucap Malaikat Dari Timur menghindari amukan pukulan jarak jauh Baba Leo. Kini mereka sudah berdiri berhadap-hadapan.

 

“Apakah masih kita lanjutkan hingga sore nanti”, kata Malaikat Dari Timur.

 

“Benar, pertarungan ini harus kita lanjutkan”, sambil menghempaskan kaki kanannya ke tanah yang dia pijak. Seketika tanah itu bergetar dan tanah itu terbelah begitu cepat. Malaikat Dari Timur pun tertelan tanah yang menganga dengan cepat itu.

 

“Wkwkwkwk…… Wkwkwkwk……”, Baba Leo Tanggalan dengan pengerahan tenaga dalam tingkat enam menghantarkan ajian Gemuruh Menggelegar. Suara itu seperti mau kiamat, sebab selain kuat juga terdengar dari delapan penjuru dan juga menyerang sistem saraf sehingga ada penduduk di radius seratus depa mati karena luka dalam serius.

 

“Mampuslah kau Malaikat Dari Timur, kawan-kawanmu pun tak capek mengubur mayatmu”, seru Baba Leo Tanggalan.

 

“Wkwkwkwk……wkwkkwkwk……, julukannya saja Malaikat Dari Timur, mana bisa malaikat dikubur”, kata Pangeran Langit.

 

Wajah Baba Leo Tanggalan seperti heran dan kecewa mendengar ucapan Pangeran Langit itu.

 

“Apa memang begitu ya”, kata Baba dalam hatinya.TUNGGU AKU BANGKIT

Oleh: Wandi Julhandi

 

Kata dirinya dalam hal

Tunggu aku bangkit

Tunggu aku berhasil

Akan aku perlihatkan

Aku juga bisa sukses

 

Tapi ingat…

 

Meskipun sukses, kaya raya

Jika hati busuk

Tukang selingkuh, pembohong

Punya harta berlimpah

Sama saja tiada guna di mataku.

 

Biar rumah hanya gubuk

Dinding bambu, lantai tanah

Akan terlihat seperti istana

Jikalau uang halal, di jalan lurus.

 

Rumah istana, percuma

Pilar tinggi, emas di mana-mana

Jikalau hasil rampasan

Lahir dari ketidakadilan

Isinya hanya kegelapan.

 

Banyak uang dan harta memang bisa membeli keindahan

Bisa keliling dunia

Tapi jika hati gelap

Tiada gunanya.

Takkan pernah bisa menikmati.

 

Menikahi banyak wanita karena banyak harta dan uang

Dikira itulah bahagia oleh pikiran manusia,

Padahal itu nafsu, bukan cinta.

 

Padahal menikahi satu wanita saja

Menjaga satu hati

Lebih indah dan bahagia

Jikalau dasarnya adalah kebahagiaan yang tulus.

 

Impianku sederhana “Hidup damai dan tenang meskipun hidup dalam gubuk.”

Jikalau ada rezeki, impian sederhana bisa jadi rumah mewah Alhamdulillah itulah bonusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *