Bagaikan malam sunyi yang gelap
Seperti hati yang sedang merana
Menepis sebuah angan
Seakan tak perna sirna
Dalam diam ku terpaku
Ya Tuhan ,
ini kah arti sebuah hidup yang sebenarnya ?Gelap
Bukan kegelapan yang menakutkan, tapi sepi yang membungkam.
Bukan kesendirian yang menyakitkan, tapi bersama tapi sudah tak sejalan.
Jika langkah kaki sudah lagi tak searah, biarkan lepas dan bebas.
Karena bertahan jika tak lagi satu tujuan, hanya akan menciptakan luka tak terdera.
Tuhan, dosakah jika merinduinya?
Tak semua yang kita inginkan jadi kenyataan, tapi Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita
Biarkan rindu ini datang menjelma,
larut dalam air mata di kegelapan malam ππ§
menyudahi pancaran terang sang rembulan πβ¨
Guratan pilu ini tak akan pernah terhapus,
sebelum matamu berkedip menatapku penuh arti π₯ΊποΈ
Karena di setiap tetes air mata yang jatuh,
ada jiwa yang terisak pasrah,
teramat mengharap hadirmu, sang pujaan π€π₯
Selamat malam semoga rindu segera bertemu ya.. π€π«
_Mengejar Mimpi*_
Di awal Oktober ini, aku kembali menata asa.
Daun-daun kering berguguran, tapi harapan tidak pernah gugur bersamanya.
Aku berdiri di persimpangan waktu, antara lelah yang kemarin dan semangat yang baru datang.
Mengejar mimpi memang tidak pernah mudah.
Ada hari dimana langkah terasa berat, ada malam dimana doa terasa sepi.
Tapi bukankah itu artinya kita masih hidup? Masih berjuang?
Oktober, jadilah saksi.
Aku tidak akan berhenti, meski pelan. Aku tidak akan menyerah, meski tertatih.
Karena mimpi tidak pernah mengkhianati orang yang setia mengejarnya.
Jika hari ini belum berhasil, masih ada esok. Jika esok belum juga, masih ada Tuhan yang tidak pernah tidur melihat usaha kita.
Teruslah melangkah, wahai hati yang pernah patah. Asa itu masih ada, di awal Oktober ini.Semilir angin menusuk kulit tipisku
Bersama sinaran bintang malamku
Ada selaksa tak tersirat dalam genggamanku
Seperti rubuh seluruh anganku
Suara air yang menderu
Menyanyi kan lagu rindu
Mengalir menutupi bebatuan itu
Begitu syahdu
Tanpa singgah dan berpamitan dulu.*SEBENING CINTAMU*
lukisan langit siang π
aku tak pandai menyebutnya,
hanya mampu menyimpannya
di dasar dada yang paling sunyi.
Kau lewat seperti angin di serambi senja,
tak menyapa, tapi harumnya tinggal lama,
aku menunduk, pura-pura tak melihat,
padahal hatiku riuh menyebut namamu.
Kau adalah sajak yang tak pernah kubaca keras-keras,
kutulis di punggung buku,
di lipatan doa,
di sela teh yang kubiarkan dingin.
Aku kagum dalam diam,
seperti bulan mengagumi matahari,
tak pernah berani mendekat,
cukup bahagia bisa memantulkan sedikit cahayanya.
Sebening cintamu itu,
tak pernah kau tahu jernihnya,
seperti akar mencintai hujan,
diam-diam, dalam, dan tak pernah meminta dilihat.
Kalau suatu hari kau menatapku,
jangan kaget bila mataku gugup,
itu bukan salahmu,
itu caraku menyembunyikan badai yang kutamai rindu.Relung Renung :
.
# TABIR NADIR #
Harus kutabuh generang
perang sedahyat apa
Melawan deru nafsu decak
amarah didadaku
Melipat geliat benci remas
sengal napasku
Untuk membunuh musuh
butuh seribu peluru
Tapi…melawan diri sendiri
sepahit sakit harakiri,
Belum terpikir harus kusimpan
dimana raga jasad ini
Bila jenuh bosan merantai hidup
berkutat dijurang sama
Menanti seutas tambang uluran
tangan wakil tuhan ?
Menambang impian naiki tebing
terjal keras dan tajam
Menuai badai diangin ribut laku
terpuruk sungut kutuk,
Bak menggali sumur tanpa dasar
tembus bumi ketanah asing
Segala gerogoti sabar memaksa
mengalah untuk menang
Siapa berani simpulkan hidup ini permainan hari putaran waktu
Tuhan tak pernah mengundi nasib
dan takdir setiap makhluknya
Kesaksian iman dan do’apun butuh
gerak dan upaya nyata !
Azab atau ujian tumpang tindih
terpapar samar dan cemar
Semua menakar akar dasar nalar
sadar dan keyakinan benar !
Da’wah pencerah hanya ilustrasi
siapa peduli setelah mati
Agama hidup dan seisi semesta
alam inipun masih mistery
Ou pecah ruah otakku mengurai
gurat kodrat dan garis hakekat
Hingga diujung akhir ada Idiom
Jalani Nikmati Syukuri
Hah…apa semata dalih berkilah
pelarian nisbi dalil Aqli ?
Aqidah bukan sekedar percaya
iman dan yakin mutlak
Karena amal kesalehanpun tak
jadi jaminan keselamatan
Bila ridlo dan magfirahNya bias
oleh cadas lepas ikhlas !… cuplikan terakhir eps (20)…
Serangan-serangan yang dilakukan Kakek Tua itu benar-benar merepotkan Roh Daya sehinga beberapa kali tendangan dan pukulan Kakek Tua mendarat di tubuh Roh Daya.
cersil
AJI PATUAN SIMARSOIT
… serial pendekar Mahasakti …(21)
Roh Daya yang terdesak dengan jurus-jurus ilmu silat, akhirnya mengerahkan hawa saktinya melindungi dada, perut dan punggungnya. Lalu dia memusatkan perhatiannya menggunakan ilmu silat untuk mengimbangi ilmu silat Kakek Tua.
Pertarungan silat yang dilakukan dua datuk persilatan itu sungguh luar biasa. Gerakan mereka sangatlah cepat, baik pukulan, tendangan dan gerakan sapuan kaki masing-masing. Setiap pukulan dan tendangan dialiri tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat enam, sehingga setiap gerakan menimbulkan suara.
“Buuukkk… buuukkk…..”, suara beradunya tendangan dan pukulan sering terjadi. Tampaknya pertarungan silat oleh kedua datuk itu sudah mencapai klimaksnya. Bahkan pertarungan itu sudah lama sekali sebelum matahari dibatas kepala, padahal saat bertarung matahari sudah miring mau menjelang sore.
Pertarungan terus berlanjut tapi berubah menjadi pertarungan marsiranggut (gulat) saling mengunci dan memelintir, tapi tetap menyalurkan tenaga dalamnya masing-masing dan menjaga serangan tak terduga mereka juga mengalirkan hawa sakti mereka ke seluruh tubuhnya.
“Berhentilah….. berhentilah…..kalian malah jadi marsiranggut” (bergulat), kata Malaikat Dari Timur yang aslinya bernama Batara Kala. Keduanya pun segera mengakhiri pertarungannya yang kelihatannya sudah lelah.
“Sekarang akulah lawanmu”, seru Baba Leo Tanggalan kepada Malaikat Dari Timur, sambil menyerang dengan pedang yang memancarkan sinar kemilau putih dengan gerakan horisontal. Malaikat Dari Timur berkelit ke samping kiri, tapi kaki kanan Baba Leo Tanggalan menyikut ke arah Malaikat. Dengan gerakan refleks Malaikat Dari Timur menghindar, namun dengan cepat pula tangan kanannya memukul kaki kanan Baba Leo Tanggalan itu sehingga keseimbangan Baba terganggu sehingga dia berguling-guling di udara untuk menjaga keseimbangan bila sudah kaki menjejak di tanah.
Baba Leo Tanggalan kemudian menarik jurus Pedang Membelah Gunung. Dia melayang di udara dengan ketinggian tiga depa dari permukaan tanah. Dia mengerahkan tenaga dalamnya ke tangan kanannya yang memegang pedang dan mengayunkannya ke arah Malaikat Dari Timur.
“Wuuusshh…. wuusshh….wusshh….”.
Suara deru angin pedang berwarna putih melebihi warna sinar matahari jelas kelihatan menyambar-nyambar ke tubuh Malaikat Dari Timur. Tanah-tanah berhamburan terkena sambaran sinar pedang, bahkan dahan dan ranting pohon-pohon berpatahan dihantam sambaran pedang Baba Leo Tanggalan.
“Baba Leo, kalau aku tak salah pedangmu itu adalah Pedang Darah Iblis, auranya busuk dan mengerikan” kata Malaikat Dari Timur, saat keduanya belum melanjutkan pertarungan.
“Benar, ini aku pake hanya untuk memenggal lehermu untuk kepersembahkan buat leluhur ku di hutan Simardikkan”.
“Ohhhhh…..sangat mengerikan tapi mengapa bukan kepalamu yang sudah busuk itu dipersembahkan oleh dedemit-dedemit di sana”, kata Malaikat Dari Timur sambil melepaskan ajian Tali Malaikat. Ajian ini adalah kesaktian yang diwujudkan dalam bentuk tali yang terus mengejar korban walaupun berlari hingga seri beribu-ribu depa.
Tali itu berhasil mengikat kaki Baba Leo Tanggalan tapi Baba Leo Tanggalan melepaskan ikatan itu dengan menebaskan pedangnya, tapi tali itu kembali menyerang tubuhnya sehingga dia berjumpalitan sambil menepis. Tali seperti hidup menyerang untuk membelit Baba Leo Tanggalan. Serangan bertubi-tubi dari tali diatasi oleh Baba Leo dengan habis-habisan menebas tali-tali yang tak kunjung habis itu.
Baba Leo Tanggalan berpikir bila terus-menerus waktunya menghadapi tali gaib itu maka dia akan bulan-bulanan pukulan lawan dan akan kehabisan tenaga. Dia melompat mundur sambil melepaskan satu pukulan tenaga dalamnya.
“Buuuuuuuuuaaaaarrr……”.
Pukulan itu bukan di arahkan ke tali tapi ke arah Malaikat Dari Timur. Dengan pukulan jarak jauh itu maka posisi Malaikat Dari Timur menghentikan serangannya karena dia juga musti jungkir balik menghindari pukulan jarak jauh yang dilontarkan Baba Leo Tanggalan.
“Aihhhh…….”, ucap Malaikat Dari Timur menghindari amukan pukulan jarak jauh Baba Leo. Kini mereka sudah berdiri berhadap-hadapan.
“Apakah masih kita lanjutkan hingga sore nanti”, kata Malaikat Dari Timur.
“Benar, pertarungan ini harus kita lanjutkan”, sambil menghempaskan kaki kanannya ke tanah yang dia pijak. Seketika tanah itu bergetar dan tanah itu terbelah begitu cepat. Malaikat Dari Timur pun tertelan tanah yang menganga dengan cepat itu.
“Wkwkwkwk…… Wkwkwkwk……”, Baba Leo Tanggalan dengan pengerahan tenaga dalam tingkat enam menghantarkan ajian Gemuruh Menggelegar. Suara itu seperti mau kiamat, sebab selain kuat juga terdengar dari delapan penjuru dan juga menyerang sistem saraf sehingga ada penduduk di radius seratus depa mati karena luka dalam serius.
“Mampuslah kau Malaikat Dari Timur, kawan-kawanmu pun tak capek mengubur mayatmu”, seru Baba Leo Tanggalan.
“Wkwkwkwk……wkwkkwkwk……, julukannya saja Malaikat Dari Timur, mana bisa malaikat dikubur”, kata Pangeran Langit.
Wajah Baba Leo Tanggalan seperti heran dan kecewa mendengar ucapan Pangeran Langit itu.
“Apa memang begitu ya”, kata Baba dalam hatinya.TUNGGU AKU BANGKIT
Oleh: Wandi Julhandi
Kata dirinya dalam hal
Tunggu aku bangkit
Tunggu aku berhasil
Akan aku perlihatkan
Aku juga bisa sukses
Tapi ingat…
Meskipun sukses, kaya raya
Jika hati busuk
Tukang selingkuh, pembohong
Punya harta berlimpah
Sama saja tiada guna di mataku.
Biar rumah hanya gubuk
Dinding bambu, lantai tanah
Akan terlihat seperti istana
Jikalau uang halal, di jalan lurus.
Rumah istana, percuma
Pilar tinggi, emas di mana-mana
Jikalau hasil rampasan
Lahir dari ketidakadilan
Isinya hanya kegelapan.
Banyak uang dan harta memang bisa membeli keindahan
Bisa keliling dunia
Tapi jika hati gelap
Tiada gunanya.
Takkan pernah bisa menikmati.
Menikahi banyak wanita karena banyak harta dan uang
Dikira itulah bahagia oleh pikiran manusia,
Padahal itu nafsu, bukan cinta.
Padahal menikahi satu wanita saja
Menjaga satu hati
Lebih indah dan bahagia
Jikalau dasarnya adalah kebahagiaan yang tulus.
Impianku sederhana “Hidup damai dan tenang meskipun hidup dalam gubuk.”
Jikalau ada rezeki, impian sederhana bisa jadi rumah mewah Alhamdulillah itulah bonusnya.











