Bisnis Retorika: Ketika Kebencian Menjadi Komoditas Politik
JAWAPERS.COM
Oleh : Novita Sari Yahya
Percakapan di lapau hari ini membahas satu pertanyaan sederhana: bisnis apa yang paling laku? Dari obrolan yang berkembang, muncul sebuah jawaban yang menarik untuk direnungkan: bisnis retorika. Bukan semata-mata retorika sebagai seni berbicara, melainkan kemampuan menjual kemarahan, membangun permusuhan, dan mengemas emosi massa menjadi modal untuk memperoleh kekuasaan maupun posisi politik.
Kita menyaksikan bagaimana seseorang dapat menggemparkan panggung melalui kata-kata provokatif. Ada yang berhasil memperoleh tempat dalam lingkaran kekuasaan sebagai pengelola komunikasi dan propaganda. Pertanyaannya, apakah keberhasilan itu lahir dari kualitas gagasan dan kemampuan menawarkan solusi, atau dari kepiawaian memainkan emosi pendengarnya?
Sejarah memberikan pelajaran penting melalui propaganda Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler. Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Nazi, berperan dalam membangun citra rezim, menyebarkan ideologi, dan memperkuat permusuhan terhadap kelompok yang dijadikan musuh. Penelitian sejarah menunjukkan bahwa propaganda Nazi memanfaatkan pengulangan pesan, manipulasi informasi, prasangka, dan kontrol terhadap media untuk membentuk persepsi masyarakat.
Ungkapan bahwa kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran kerap dikaitkan dengan Goebbels. Namun, atribusi kalimat tersebut kepadanya tidak memiliki landasan historis yang cukup kuat. Yang dapat kita pelajari bukanlah keabsahan kutipan itu, melainkan kenyataan bahwa pengulangan pesan dapat memengaruhi penilaian manusia terhadap kebenaran, terutama ketika pesan tersebut disampaikan secara terus-menerus tanpa pemeriksaan kritis.
Lantas, apa modal bisnis retorika yang menjual kemarahan?
Terkadang, modalnya bukan kedalaman pengetahuan, melainkan keberanian menggunakan kata-kata kasar, penghinaan, dan makian di depan publik. Kata-kata seperti “bajingan” atau “tolol” dapat dilontarkan dari atas mimbar, kemudian disambut tepuk tangan meriah. Bagi sebagian pendengar, makian itu mungkin terasa mewakili kemarahan yang selama ini terpendam. Sang orator pun memperoleh legitimasi emosional, seolah-olah keberanian menghina identik dengan keberanian memperjuangkan kebenaran.
Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda. Kritik yang tajam tidak harus kehilangan argumentasi, dan keberanian tidak harus diwujudkan melalui penghinaan. Ketika bahasa kasar dibungkus dengan istilah filsafat, teori sosial, atau jargon intelektual, kita perlu bertanya apakah istilah tersebut benar-benar memperkuat argumentasi atau hanya menjadi ornamen untuk membangun kesan berwibawa.
Fenomena ini semakin menarik ketika terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Universitas semestinya menjadi ruang untuk menguji gagasan, memperdebatkan bukti, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Namun, tepuk tangan yang meriah tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa sebuah pidato bermutu. Sebaliknya, tepuk tangan juga tidak otomatis menunjukkan bahwa pendengarnya kehilangan daya kritis. Kita perlu menilai isi pidato, konteks acara, dan alasan audiens memberikan respons tersebut.
Meski demikian, peristiwa semacam itu layak menjadi bahan refleksi. Jika penghinaan terhadap pihak lain lebih menarik perhatian daripada argumentasi yang disertai bukti, bukankah ada sesuatu yang perlu kita evaluasi dalam budaya komunikasi politik kita?
Pertanyaan ini terasa relevan ketika kita membicarakan Ranah Minang, wilayah yang memiliki sejarah panjang tradisi intelektual, adat musyawarah, dan pemikiran kebangsaan. Sumatra Barat melahirkan tokoh-tokoh penting seperti Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, dan Tan Malaka. Sutan Sjahrir juga merupakan salah satu tokoh utama dalam sejarah pemikiran demokrasi Indonesia.
Tentu, sejarah intelektual tersebut tidak berarti setiap masyarakatnya selalu berpikir kritis. Demikian pula, respons sebagian audiens terhadap sebuah pidato tidak dapat dijadikan ukuran untuk menghakimi seluruh masyarakat Minangkabau. Justru, warisan intelektual daerah ini seharusnya menjadi alasan untuk terus memelihara tradisi perdebatan yang sehat, argumentasi yang terukur, dan penghormatan terhadap perbedaan pendapat.
Pemikiran Sutan Sjahrir tentang demokrasi dan kemanusiaan mengingatkan kita bahwa kemerdekaan politik harus disertai kedewasaan dalam kehidupan bersama. Demokrasi bukan sekadar kebebasan berbicara atau kesempatan mengumpulkan dukungan massa. Demokrasi juga menuntut kesediaan menghormati martabat manusia, menerima kritik, dan menolak politik yang menjadikan kebencian sebagai alat mobilisasi.
Hari ini, adu otot tidak selalu berlangsung melalui kekuatan fisik. Ia dapat berubah menjadi adu makian, hiperbola, agitasi, dan penghinaan yang dikemas dengan bahasa intelektual. Masyarakat pun berisiko terjebak dalam siklus reaksi emosional: marah sebelum memeriksa fakta, membenci sebelum memahami persoalan, dan mendukung sebelum menguji argumentasi.
Tentu, tidak semua retorika merupakan propaganda dan tidak semua pidato yang emosional mengandung kebencian. Retorika juga dapat digunakan untuk membela kelompok yang tertindas, menyampaikan kebenaran, dan menggerakkan perubahan sosial. Persoalannya bukan terletak pada kemampuan berbicara, melainkan pada tujuan, metode, dan tanggung jawab moral orang yang menggunakannya.
Pada akhirnya, bisnis retorika yang mengeksploitasi kebencian mungkin menghasilkan popularitas dan keuntungan politik dalam jangka pendek. Namun, jika dibiarkan tanpa kritik, praktik tersebut dapat merusak ruang dialog dan memperlemah kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi.
Bangsa ini tidak kekurangan orang yang pandai berbicara. Tantangan kita adalah memastikan bahwa kepandaian berbicara tidak menggantikan kewajiban berpikir.
Sebab, ukuran kecerdasan bukanlah seberapa keras seseorang berteriak di atas mimbar, melainkan seberapa kuat gagasannya bertahan ketika diuji oleh fakta, akal sehat, dan argumentasi yang terbuka.
Ketika tepuk tangan lebih menentukan daripada kebenaran, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita sedang mendengarkan sebuah gagasan, atau sekadar menikmati kemarahan yang terasa mewakili diri kita?
(Wartawan/Dupriyadi)











